Perlukah Pemain Keturunan / Naturalisasi Untuk Timnas Indonesia ?
Ahkir akhir ini supporter timnas indonesia di hebohkan oleh fenomena maraknya pemain keturunan yang bermain di timnas indonesia era Coach Shin Tae Yong ini.
Banyak pro dan kontra yang terjadi. Tapi, perlukah kita melakukan proses naturalisasi ? Atau tak mampukah kita jika hanya mengandalkan pemain lokal ?
Mungkin kita perlu bebenah
Apakah liga kita sudah bagus ?
Atau kualitas induvidu kita sebenarnya mampu bersaing ?
1. Fenomena Naturalisasi
Baca : Chelsea siapkan amunisi baru
Banyak pro dan kontra yang terjadi. Tapi, perlukah kita melakukan proses naturalisasi ? Atau tak mampukah kita jika hanya mengandalkan pemain lokal ?
Mungkin kita perlu bebenah
Apakah liga kita sudah bagus ?
Atau kualitas induvidu kita sebenarnya mampu bersaing ?
1. Fenomena Naturalisasi
Baca : Chelsea siapkan amunisi baru
Sebenarnya bukan baru ini saja Pssi melakukan proses naturalisasi. Pada tahun 2010 kita bisa menengok beberapa pemain naturalisasi / keturunan.
Sebut saja El locco, Irfan Bachdim dan Kim kurniawan. Mereka cukup mendongkrak prestasi timnas kala Aff 2010 waktu itu.
Namun sayangnya kualitas mereka tak begitu jauh dengan pemain kita. Ya ... walaupun El locco sangat menonjol di timnas, namun ia hanya pemain selevel Liga 1 indonesia (ISL). Begitupun Irfan Bachdim dan kim. Walaupun saat itu Irfan bachdim bermain di liga belanda, namun sayang ia malah bergabung dengan tim Liga 1. Bahkan tim nya bergabung dalam tim LPI yang membuat dualisme yang berujung sanksi untuk Pssi.
Namun berbeda dengan sekarang, pemain aboard keturunan mereka cukup bersaing di liga luar negri, bahkan diantaranya menjadi pemain inti.
Jadi bisa di bilang Pssi cukup sukses kali ini, Cukup. Bahkan kita bisa bersaing di level Asia bukan lagi Asean
2. Proses gagal
Era pssi mencari pemain keturunan tentu tak semudah itu, ada yang floop juga saat membela timnas.
Contohnha ketika era coach Wilhelmus Reichbergen kualitas mereka malah bisa di bilang semrawut. Pemain zeperti Van Beukring tak mampu membuat andil banyak. Tapi itu karna usianya tak lagi muda.
Di era itu hanya Raphael Maitimo yang mampu ertahan hingga lama di timnas.
Banyak dari pemain aboard memilih menerima pinangan klub liga 1.Sebab jika bertahan di luar negri mereka akan kesulitan membela timnas. Karna dulu agenda terbesar timnas adalah piala Aff. Yang bahkan tak ada di kalender FIFA. Hingga pada Akhirnya performa mereka turun darastis saat di Liga Indonesia.
Klik disini untuk melanjutkan
3. Performa liga pemain aboard sekarang
Beberapa klub dari pemain aboard timnas era STY ini menuju level tertinggi liga utama di dunia.
Sebut saja EPL dan Serie A.
Ada Jay Idzez yang hampir promosi ke serie A italia. Ada juga Elkan Baggot yang tim utamana berhasil promosi ke EPL 2024/25. Ada juga Justin Hubner, pemain Wolfes u-23, yang tinggal kita tunggu mampu menembus skuat utama senior Wolfes.
Sebut saja El locco, Irfan Bachdim dan Kim kurniawan. Mereka cukup mendongkrak prestasi timnas kala Aff 2010 waktu itu.
Namun sayangnya kualitas mereka tak begitu jauh dengan pemain kita. Ya ... walaupun El locco sangat menonjol di timnas, namun ia hanya pemain selevel Liga 1 indonesia (ISL). Begitupun Irfan Bachdim dan kim. Walaupun saat itu Irfan bachdim bermain di liga belanda, namun sayang ia malah bergabung dengan tim Liga 1. Bahkan tim nya bergabung dalam tim LPI yang membuat dualisme yang berujung sanksi untuk Pssi.
Namun berbeda dengan sekarang, pemain aboard keturunan mereka cukup bersaing di liga luar negri, bahkan diantaranya menjadi pemain inti.
Jadi bisa di bilang Pssi cukup sukses kali ini, Cukup. Bahkan kita bisa bersaing di level Asia bukan lagi Asean
2. Proses gagal
Era pssi mencari pemain keturunan tentu tak semudah itu, ada yang floop juga saat membela timnas.
Contohnha ketika era coach Wilhelmus Reichbergen kualitas mereka malah bisa di bilang semrawut. Pemain zeperti Van Beukring tak mampu membuat andil banyak. Tapi itu karna usianya tak lagi muda.
Di era itu hanya Raphael Maitimo yang mampu ertahan hingga lama di timnas.
Banyak dari pemain aboard memilih menerima pinangan klub liga 1.Sebab jika bertahan di luar negri mereka akan kesulitan membela timnas. Karna dulu agenda terbesar timnas adalah piala Aff. Yang bahkan tak ada di kalender FIFA. Hingga pada Akhirnya performa mereka turun darastis saat di Liga Indonesia.
Klik disini untuk melanjutkan
3. Performa liga pemain aboard sekarang
Beberapa klub dari pemain aboard timnas era STY ini menuju level tertinggi liga utama di dunia.
Sebut saja EPL dan Serie A.
Ada Jay Idzez yang hampir promosi ke serie A italia. Ada juga Elkan Baggot yang tim utamana berhasil promosi ke EPL 2024/25. Ada juga Justin Hubner, pemain Wolfes u-23, yang tinggal kita tunggu mampu menembus skuat utama senior Wolfes.
Baca lagi
Banyak juga pemain keturunan yanv bermain di Eradivisie Belanda. Bahkan mereka bisa bersaing di klub mereka masing masing
Banyak juga pemain keturunan yanv bermain di Eradivisie Belanda. Bahkan mereka bisa bersaing di klub mereka masing masing
Ahkir akhir ini supporter timnas indonesia di hebohkan oleh fenomena maraknya pemain keturunan yang bermain di timnas indonesia era Coach Shin Tae Yong ini.
Banyak pro dan kontra yang terjadi. Tapi, perlukah kita melakukan proses naturalisasi ? Atau tak mampukah kita jika hanya mengandalkan pemain lokal ?
Mungkin kita perlu bebenah
Apakah liga kita sudah bagus ?
Atau kualitas induvidu kita sebenarnya mampu bersaing ?
1. Fenomena Naturalisasi
Sebenarnya bukan baru ini saja Pssi melakukan proses naturalisasi. Pada tahun 2010 kita bisa menengok beberapa pemain naturalisasi / keturunan.
Sebut saja El locco, Irfan Bachdim dan Kim kurniawan. Mereka cukup mendongkrak prestasi timnas kala Aff 2010 waktu itu.
Namun sayangnya kualitas mereka tak begitu jauh dengan pemain kita. Ya ... walaupun El locco sangat menonjol di timnas, namun ia hanya pemain selevel Liga 1 indonesia (ISL). Begitupun Irfan Bachdim dan kim. Walaupun saat itu Irfan bachdim bermain di liga belanda, namun sayang ia malah bergabung dengan tim Liga 1. Bahkan tim nya bergabung dalam tim LPI yang membuat dualisme yang berujung sanksi untuk Pssi.
Namun berbeda dengan sekarang, pemain aboard keturunan mereka cukup bersaing di liga luar negri, bahkan diantaranya menjadi pemain inti.
Jadi bisa di bilang Pssi cukup sukses kali ini, Cukup. Bahkan kita bisa bersaing di level Asia bukan lagi Asean
2. Proses gagal
Era pssi mencari pemain keturunan tentu tak semudah itu, ada yang floop juga saat membela timnas.
Contohnha ketika era coach Wilhelmus Reichbergen kualitas mereka malah bisa di bilang semrawut. Pemain zeperti Van Beukring tak mampu membuat andil banyak. Tapi itu karna usianya tak lagi muda.
Di era itu hanya Raphael Maitimo yang mampu ertahan hingga lama di timnas.
Banyak dari pemain aboard memilih menerima pinangan klub liga 1.Sebab jika bertahan di luar negri mereka akan kesulitan membela timnas. Karna dulu agenda terbesar timnas adalah piala Aff. Yang bahkan tak ada di kalender FIFA. Hingga pada Akhirnya performa mereka turun darastis saat di Liga Indonesia.
3. Performa liga pemain aboard sekarang
Beberapa klub dari pemain aboard timnas era STY ini menuju level tertinggi liga utama di dunia.
Sebut saja EPL dan Serie A.
Ada Jay Idzez yang hampir promosi ke serie A italia. Ada juga Elkan Baggot yang tim utamana berhasil promosi ke EPL 2024/25. Ada juga Justin Hubner, pemain Wolfes u-23, yang tinggal kita tunggu mampu menembus skuat utama senior Wolfes.
Banyak juga pemain keturunan yanv bermain di Eradivisie Belanda. Bahkan mereka bisa bersaing di klub mereka masing masing
Banyak pro dan kontra yang terjadi. Tapi, perlukah kita melakukan proses naturalisasi ? Atau tak mampukah kita jika hanya mengandalkan pemain lokal ?
Mungkin kita perlu bebenah
Apakah liga kita sudah bagus ?
Atau kualitas induvidu kita sebenarnya mampu bersaing ?
1. Fenomena Naturalisasi
Sebenarnya bukan baru ini saja Pssi melakukan proses naturalisasi. Pada tahun 2010 kita bisa menengok beberapa pemain naturalisasi / keturunan.
Sebut saja El locco, Irfan Bachdim dan Kim kurniawan. Mereka cukup mendongkrak prestasi timnas kala Aff 2010 waktu itu.
Namun sayangnya kualitas mereka tak begitu jauh dengan pemain kita. Ya ... walaupun El locco sangat menonjol di timnas, namun ia hanya pemain selevel Liga 1 indonesia (ISL). Begitupun Irfan Bachdim dan kim. Walaupun saat itu Irfan bachdim bermain di liga belanda, namun sayang ia malah bergabung dengan tim Liga 1. Bahkan tim nya bergabung dalam tim LPI yang membuat dualisme yang berujung sanksi untuk Pssi.
Namun berbeda dengan sekarang, pemain aboard keturunan mereka cukup bersaing di liga luar negri, bahkan diantaranya menjadi pemain inti.
Jadi bisa di bilang Pssi cukup sukses kali ini, Cukup. Bahkan kita bisa bersaing di level Asia bukan lagi Asean
2. Proses gagal
Era pssi mencari pemain keturunan tentu tak semudah itu, ada yang floop juga saat membela timnas.
Contohnha ketika era coach Wilhelmus Reichbergen kualitas mereka malah bisa di bilang semrawut. Pemain zeperti Van Beukring tak mampu membuat andil banyak. Tapi itu karna usianya tak lagi muda.
Di era itu hanya Raphael Maitimo yang mampu ertahan hingga lama di timnas.
Banyak dari pemain aboard memilih menerima pinangan klub liga 1.Sebab jika bertahan di luar negri mereka akan kesulitan membela timnas. Karna dulu agenda terbesar timnas adalah piala Aff. Yang bahkan tak ada di kalender FIFA. Hingga pada Akhirnya performa mereka turun darastis saat di Liga Indonesia.
3. Performa liga pemain aboard sekarang
Beberapa klub dari pemain aboard timnas era STY ini menuju level tertinggi liga utama di dunia.
Sebut saja EPL dan Serie A.
Ada Jay Idzez yang hampir promosi ke serie A italia. Ada juga Elkan Baggot yang tim utamana berhasil promosi ke EPL 2024/25. Ada juga Justin Hubner, pemain Wolfes u-23, yang tinggal kita tunggu mampu menembus skuat utama senior Wolfes.
Banyak juga pemain keturunan yanv bermain di Eradivisie Belanda. Bahkan mereka bisa bersaing di klub mereka masing masing